Produktivitas penjarangan dan pemeliharaan trubusan Jati Plus Perhutani (JPP)

Authors

  • Dian Rodiana Perhutani Forestry Institute
  • Aulia Hasanusi Perhutani Forestry Institute
  • Zakheus Yunianto Perhutani Forestry Institute
  • Utomo Perhutani Forestry Institute
  • Ganang Winduro Perhutani Forestry Institute

Keywords:

Jati JPP, Produktivitas, Penjarangan, Perhutanan Klon, Trubusan

Abstract

Jati Plus Perhutani (JPP) merupakan nama jati unggul produk Perhutani yang diperoleh melalui program pemuliaan pohon, yang dikembangkan melalui pembiakan secara vegetatif (setek pucuk atau kultur jaringan) dan generatif (semai dari benih asal kebun benih klonal). Penjarangan tegakan selain sebagai tindakan silvikultur, dapat memberikan nilai ekonomi sebagai hasil antara (intermediate yield) sebelum panen akhir daur tanaman. Tegakan JPP Setek Pucuk di seluruh wilayah Perum Perhutani yang ditanam mulai tahun 2008-2011 telah mencapai keluasan ± 50.000 ha. Tujuan penelitian adalah mengkaji model/perlakuan penjarangan dan trubusan terhadap produktivitas tegakan. Penelitian ini dilakukan pada pertanaman perhutanan klon umur 12 dan 14 tahun di KPH Ngawi. Parameter yang diamati adalah produkstivitas kayu hasil penjarangan, tinggi dan keliling pohon tegakan tinggal, dan trubusan. Hasil pengamatan menunjukan produktivitas tanaman JPP dari hasil uji coba tebangan penjarangan dan pemeliharaan trubusan umur 12 dan 14 tahun di KPH Ngawi sebesar 97,62 m³/ha sampai dengan 191,99 m³/ha. Produktivitas tersebut masih belum ditambah dengan pohon yang ditinggalkan dan pertumbuhan trubusannya sampai dengan saat ini. Hasil pengamatan sementara pertumbuhan tegakan tinggal dan trubusan metode II (N=100 pohon/ha) lebih baik dari metode III (N=150 pohon/ha) bentuk jalur. Pengamatan lanjutan pertumbuhan tegakantinggal dan trubusan perlu dilakukan sampai dengan penjarangan berikutnya.

Published

2021-02-19